Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Chandra Asri Windarsih, M.Pd.

Artikel Umum

Perencanaan Pembelajaran PAUD

Dipublikasikan pada : 25 Agustus 2016. Kategori : .

PERENCANAAN PEMBELAJARAN PAUD

Dosen : Chandra Asri Windarsih, SH. M.Pd.

 

 

Perencanaan Pembelajaran PAUD atau rancangan mengenai proses pembelajaran PAUD yaitu,

  1. Proses pembelajaran pada PAUD Pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus di kuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang di miliki oleh anak.

 

Adapun proses pembelajaran terdiri atas beberapa hal diantaranya:

  1. Merancang suasana pembelajaran
  2. a) Ruangan dan halaman di atur guna menumbuhkan atau membangkitkan minat bereksplorasi anak dengan cara meletakkan media pembelajaran secara menarik. Pengaturan ruangan dan halaman dapat disesuaikan dengan tema mingguan
  3. b) Metode pembelajaran yang dipilih hendaknya merangsang anak untuk bereksplorasi (penjajakan), menemukan, dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya

 

  1. Menjalankan atau melaksanakan pembelajaran
  2. a) Proses pembelajaran tidak perlu diatur dalam tata urutan yang ketat. Anak hendaknya di beri kesempatan untuk memilih acara kegiatan pembelajarannya
  3. b) Dalam melaksanakan kegiatan pembelajarannya, sebaiknya di mulai dengan kegiatan yang dapat merangasang minat anak
  4. c) Kegiatan yang dijalankan anak dalam satu hari hendaknya bervariasai anatara kegiatan yang bersifat ramai dan kegiatan yang melatih konsentrasi anak

 

  1. Pengaturan Pengaturan proses pembelajaran lebih lanjut di atur dalam pedoman pengelolaan proses pembelajaran.

 

  1. Tujuan dan fungsi program pembelajaran Menurut catron dan allen (1999:23) tujuan program pembelajaran adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi interaktif. Menurut pendapat lain Tujuan program pembelajaran adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembanganan sikap pengetahuan, ketrampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan pada tahapan berikutnya.

 

Adapun fungsi program pembelajaran diantaranya:

Ø Untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya

Ø Mengenalkan anak dengan dunia sekitar

Ø Mengembangkan sosialisasi anak

Ø Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak

Ø Memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmatia masa bermainnya

 

Prinsip-Prinsip Pembelajaran PAUD Berikut ini prinsip-prinsip pengembangan rencana pembelajaran yang harus dipahami oleh tenaga pendidik PAUD :

1.Sesuai Dengan Tahap Perkembangan Anak Rencana pembelajaran disusun untuk memberikan panduan dalam menyiapkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak. Dengan kata lain penyusunan rencana pembelajaran harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Rencana pembelajaran yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak tidak atau kurang memberi manfaat bagi pengembangan kemampuan anak. Sebagai contoh untuk kelompok anak usia 2 tahun yang sudah dapat berjalan dengan lancar, rencana pembelajaran yang berisi latihan berdiri tentunya tidak menantang anak untuk berkembang lebih lanjut. Sebaliknya untuk kelompok anak tersebut yang belum mengenal warna, kegiatan untuk membuat pola warna tidak akan dapat dicapai anak. Mengetahui tahap perkembangan kelompok usia anak dapat merujuk pada Standar Perkembangan.

 

2.Memenuhi Kebutuhan Belajar Anak Selain memperhatikan tahap perkembangan anak, rencana pembelajaran juga harus dapat memenuhi kebutuhan belajar anak secara individu karena setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Meskipun pada umumnya anak pada kelompok usia tertentu ada dalam tahap perkembangan yang sama, tetapi pada kenyataannya setiap anak memiliki kekhasan masing-masing. Oleh karena itu dalam menyusun rencana pembelajaran perlu juga memperhatikan kekhasan anak secara individu. Memahami kekhasan dan kebutuhan pembelajaran masing-masing anak dapat dilakukan melalui Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) di saat anak baru masuk program, atau dengan cara mengamati saat anak main. DDTK adalah sekelompok instrumen yang digunakan untuk mendeteksi tahap perkembangan anak. Apabila perencanaan pembelajaran disusun setelah dilakukan penilaian, maka hasil penilaian perkembangan anak dapat dijadikan dasar untuk membuat perencanaan pembelajaran berikutnya.

 

3.Menyeluruh (meliputi semua aspek perkembangan) Rencana pembelajaran yang disusun harus mencakup semua aspek perkembangan anak yang meliputi: moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, dan kemandirian, bahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni sebagai satu kesatuan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Pada pendidikan anak usia dini pengembangan setiap aspek perkembangan disampaikan dalam kegiatan pembelajaran yang terpadu dengan menggunakan tema. Contoh: dengan tema pembelajaran ”Aku”, aspek yang dikembangkan mencakup moral dan nilai-nilai agama (mengenal aku sebagai ciptaan Tuhan), bahasa (menambah kosa kata tentang aku, menceritakan keluargaku, dll), kognitif (menghitung jumlah anggota tubuh), sosial emosional (mengenal kesukaan dan ketidaksukaanku), dan seterusnya.

 

4.Operasional

  1. Tujuan Jelas dan dapat diukur: Perencanaan yang dibuat harus berisi tujuan yang jelas dan ingin dicapai dalam pembelajaran. Seperti yang dipaparkan di depan, tujuan yang ingin dicapai mencakup pengembangan semua kemampuan anak. Penetapan indikator yang ingin dicapai dalam rencana pembelajaran harus bertahap dan berkelanjutan, dimulai dari indikator paling sederhana, konkrit ke yang lebih rumit. Jumlah indikator yang ditetapkan dalam tujuan pun harus dibatasi sesuai dengan kemampuan. Tujuan yang dituangkan dalam rencana pembelajaran pun harus dapat terukur, konkrit, dan dapat diamati.
  2. Dapat Dilaksanakan: Perencanaan disusun sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran, karena itu penyusunan rencana pembelajaran harus dipastikan dapat diterapkan dalam pembelajaran yang menyenangkan bagi anak. Agar perencanaan dapat laksanakan maka harus memperhatikan sumber daya yang ada (SDM, sarana dan prasarana, lingkungan/muatan lokal), serta sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

 

  1. Mengoptimalkan Potensi Lingkungan Salah satu tujuan PAUD adalah mengembangkan kemampuan anak dalam mengenal lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain anak diharapkan peka terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Anak dapat melihat lingkungan sebagai pusat sumber belajar, sebagai potensi yang harus dioptimalkan dan sebagai wahana yang harus dijaga kelestariannya. Karena itu pengembangan rencana belajar untuk PAUD harus berakar pada lingkungan yang ada di sekitar anak. Lingkungan yang dimaksud disini meliputi, lingkungan fisik yakni orang-orang yang ada di sekitar anak (guru, pengelola, orang tua, masyarakat), benda-benda, tumbuhan, binatang, dan bangunan sekitarnya, cuaca, alam sekitar.

Selain lingkungan fisk juga perlu memperhatikan lingkungan non fisik, yakni adat, budaya, nilai-nilai keagamaan, seni, bahasa, dan lainnya. Lingkungan fisik maupun non fisik tersebut diatas menjadi sumber belajar yang tidak ada habisnya untuk diolah menjadi bagian dari perencanaan pembelajaran bagi anak usia dini. Contoh: Tema : Makananku, Sub tema : Makanan Sehat Kegiatan yang akan dilaksanakan: · Mendiskusikan perilaku yang diharapkan selama ada di masjid, kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan di masjid. · Mengajak anak langsung mengunjungi masjid untuk mengamati seluruh bagian bangunan masjid. · Memberi kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan pengalamannya tentang masjid kedalam kegiatan-kegiatan seperti: melukis, menggambar, menyusun balok, bermain pasir, membentuk dengan playdough, menggunting, menyusun puzle, dll. Mengoptimalkan potensi lingkungan juga dapat diartikan dengan memanfaatkan semua benda dan alat yang ada di lingkungan sebagai APE yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru bersama anak sebagai salah satu alternatif mengatasi kekurangan atau keterbatasan APE yang dimiliki.

PERENCANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN

Perencanaan kegiatan pembelajaran sangat membantu pendidik dalammengarahkan dan mengoptimalkan kegiatan belajar melalui bermain anak sehingga memperoleh hasil belajar yang maksimal pula. Dengan adanya perencanaan kegiatan pembelajaran, pendidik dapat menyusun dan mengatur serta memperkirakan kemampuan dasar (tujuan) yang akan dicapai, bentuk dan langkah kegiatan belajar mengajar (termasuk didalamnya pemilihan dan penggunaanbahan, metode, dan media yang sesuai) serta bentuk dan kegiatan penilaian yang akan dilakukan baik terhadap proses belajar mengajar maupun terhadap perkembangan anak.Mengingat penting dan sangat bermanfaatnya perencanaan kegiatan pembelajaran maka pendidik harus mengenal, mempelajari serta menggunakan perencanaan kegiatan pembelajaran sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sebagai suatu sistem, program pembelajaran harus dilakukan secarateratur dan sistematis. Oleh karena itu,sebelum program pembelajaran dilaksanakan maka harus disusun dan dirancang suatu bentuk perencanaan kegiatan pembelajaran yang dapat diterapkan dengan mudah oleh pendidik PAUD.

 

Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentangPengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dan Peraturan Menteri PendidikanNasional Nomor58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Peserta Usia Dini,maka seluruh penyelenggaraan program PAUD harus mengacu pada standar tersebut. Namun, kondisi di lapangan masih banyak pendidik yang belum memahami dan belum mampu menyusun perencanaan kegiatan pembelajaran.Padahal perencanaan kegiatan pembelajaran merupakan inti sebuah programpendidikan anak usia dini.Berdasarkan hal tersebut,Direktorat PPTK PAUDNI perlu memfasilitasi kebutuhan pendidik tersebut dengan menyiapkan bahan ajar perencanaan kegiatan pembelajaran khususnya dalam menyusun Rencana Kegiatan Harian. Sedangkan langkah penyusunan program tahunan, program semester dan Rencana kegiatan Mingguan akan di jelaskan di bahan ajar Pengembangan Perencanaan Pembelajaran di diklat berjenjang tingkat lanjutan. Dengan disusunnya bahan ajar ini,diharapkan dapat membantu dan memudahkan pembina dan pendidik dalam menyusun perencanaan kegiatan pembelajaran di PAUD sehingga pembelajaran lebih terarah, efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

 

B.Tujuan

1.Memahami pengertian perencanaan kegiatan pembelajaran

2.Memahami prinsip-prinsip dalam penyusunan perencanaan kegiatan pembelajaran

3.Menyusun perencanaan kegiatan pembelajaran khususnya Rencana Kegiatan Harian

 

C.Ruang Lingkup

Ruang lingkup bahan ajar penyusunan perencanaan kegiatan pembelajaran ini terdiri dari:

1.Pengertian perencanaan kegiatan pembelajaran

2.Prinsip-prinsip dalam penyusunan perencanaan kegiatan pembelajaran

3.Tahapan Penyusunanperencanaan kegiatan pembelajaran

 

PERENCANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

  1. Pengertian Program Kegiatan Pembelajaran Anak Usia Dini Program pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Acuan menu pembelajaran pada pendidikan anak usia dini adalah rencana dari pengaturan kegiatan pengembangan dan pendidikan yang dirancang sebagai pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan. Selanjutnya disingkat menjadi menu pembelajran. Menu pembelajaran generik adalah program pendidikan anak usia dini secara holistik yang dapat dipergunakan dalam memberikan layanan kegiatan pengembangan dan pendidikan pada semua jenis program yang ditujukan bagi anak usia dini. Pengembangan anak usia dini adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat atau pemerintah untuk membantu anak usia dini dalam mengembangkan potensinya secara holistik baik aspek pendidikan, gizi maupun kesehatan.

  1. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan belajar, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum menjadi bahan baku dalam pembelajaran atau proses belajar mengajar.

Adapun prinsip-prinsip pengembangan:

  1. Bersifat komprehensif Kurikulum harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan perkembangan anak secara menyeluruh dalam berbagai aspek perkembangan. Ketika kurikulum tidak bersifat komprehensif, maka proses pembelajaran terancam tidak bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Proses pembelajaran menjadi tanpa arah dan tujuan.
  2. Secara bertahap Kurikulum harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepat didasarkan pada usia dan tahapan perkembangan setiap anak. Oleh karena itu, beberapa pendekatan dan konsep yang ditawarkan oleh beberapa ilmuan atau pemerhati masalah pendidikan, baik dalam maupun luar negeri, bisa dijadikan bahan acuan jika itu baik dan bisa memajukan pendidikan.

Mengembangakan standar kompetensi anak Kurikulum yang dikembangkan harus dapat mengembangkan kompetensi anak. Standar kompetensi sebagai acuan dalam menyiapkan lingkungan belajar anak. Apabila sebuah kurikulum tidak bisa mengembangkan kompetensi anak, maka kurikulum tersebut perlu ditinjau ulang.

Tujuan pembelajaran bertujuan mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk masa depannya dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta secara khusus bertujuan:

  1. Anak mampu mengenal dan percaya Tuhan, melakukan ibadah, mengenal ciptaan tuhan dan mencintai sesama.
  2. Anak memiliki nilai moral, sikap dan budi pekerti yang baik.
  3. Anak mampu mengelola dan mengelola dan mengontrol keterampilan tubuh termasuk gerakan halus dan gerakan kasar serta mampu menerima rangsangan sensorik (pancaindera).
  4. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar.
  5. Anak mampu berfikir kreatif, logis, kritis, memberi alasan, memecahkan masalah dan menemukan sebab akibat.
  6. Anak memiliki keterampilan hidup (life skill) untuk membentuk kemandirian anak
  7. Anak mampu mengenai lingkungan alam, lingkungan sosial dan budaya, serta mampu mengembangkan konsep diri, rasa memiliki dan sikap positif terhadap belajar. h. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai bunyi, bertepuk tangan serta menghargai hasil karya yang kreatif.

Perencanaan program pembelajaran Program pembelajaran adalah susunan kegiatan yang akan dilakukan selama satu tahun pembelajaran. Kegiatan yang harus disusun dan ditetapkan meliputi sesuai dengan sistem semester, ada tiga macam perencanaan kegiatan bermain di kelompok bermain, yaitu:

  1. Perencanaan tahunan dan semester
  2. Perencanaan kegiatan bermain mingguan
  3. Perencanaan kegiatan harian

Kegiatan bermain mingguan dan harian disusun berdasarkan perencanaan tahunan dan semester.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan ditetapkan meliputi:

  1. Tema kegiatan 2. Kelompok yang akan melakukan kegiatan bermain 3. Semester dan tahun ajaran 4. Jumlah waktu 5. Hari dan tanggal pelaksanaan 6. Jam pelaksanaan 7. Tujuan kegiatan bermain 8. Materi yang akan dimainkan sesuai dengan tema 9. Bentuk kegiatan bermain 10. Setiing lingkungan 11. Bahan dan alat yang diperlukan dalam bermain 12. Evaluasi perkembangan anak

Perencaan persiapan jenis permainan Perencanaan persiapan jenis permainan adalah segala sesuatu yang diperlukan sebelum melaksanakan proses kegiatan bermain.

Pengertian dan Penggunaan Metode Bagi Anak TK Para ahli pendidikan anak berpendapat bahwa pendidikan TK merupakan pendidikan yang dapat membantu menumbuh kembangkan anak dan pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar. Pada hakikatnya pendidikan TK/usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan menyediakan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak. Pendidikan anak usia dini pada hakikatnya adalah upaya untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pengertian metode pendidikan taman kanak-kanak Seorang guru taman kanak-kanak sebelum melaksanakan program kegiatan belajar terlenih dahulu perlu memperhatikan tujuan program kegiatan belajar anak taman kanak-kanak dan ruang lingkup program kegiatan belajar anak TK.

Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Metode dipilih berdasarkan strategi kegiatan yang sudah dipilih dan ditetapkan. Metode merupakan cara, yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Penggunaan metode di taman kanak-kanak Keterampilan yang hendak dikembangkan melalui berbagai program kegiatan dapat dibedakan atas pengembangan keterampilan kognitif, bahasa, kreativitas, motorik, dan emosi serta pengembangan sikap hidup. Untuk mengembangkan berbagai keterampilan itu, dapat kita pilih metode yang paling cocok untuk masing-masing. Tema adalah kerangka bahasan untuk mengenalkan berbagai konsep, sehingga anak mampu mengenal dan membangun konsep secara utuh, mudah dan jelas.

Pemilihan tema dapat berdasarkan pada:

  1. kehidupan terdekat anak
  2. minat anak atau kecenderungan anak
  3. permasalahan yang dihadapi
  4. pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki anak
  5. ketersediaan sumber yang dapat dipelajari dan diamati anak (orang, tempat yang dapat dikunjungi, buku-buku tentang tema)
  6. ketersediaan berbagai media atau alat yang dapat dimainkan anak secara mandiri atau dengan sedikit bantuan kader/pendidik

7.mendukung perkembangan kemampuan moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, dan kemandirian, bahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni

  1. mengembangkan kosa kata anak, dan
  2. nilai, kepercayaan, budaya yang berlaku di masyarakat.

Berdasarkan uraian tersebut di atas penentuan tema harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi dan tidak dibakukan. Seringkali pendidik PAUD terjebak harus menyelesaikan tema. Tema pada dasarnya hanya sebuah media yang membungkus konsep. Bungkus ini dapat diganti atau diubah, yang penting kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan. Tema yang dipilih hendaknya tema-tema yang menarik, yang menntang dan yang bermakna bagi anak. Untuk memnuhi kriteria-kriteria tersebut, sebaiknya tema itu berkaitan langsung dengan diri anak dan lingkungannya (Gardon dan Browne dalam Moeslichton, 2004:13)

Sesuai dengan pandangan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (1994) sendiri telah melaksanakan program kegiatan bagi anak TK dan tidak tertutup kemungkinan bagi guru untuk mengembangkan tema sendiri. a. Tema Aku b. Tema Pancaindera c. Tema Makanan Dan Minuman d. Tema Pakaian e. Tema Kebersihan f. Tema Binatang g. Tema Tanaman h. Tema Kendaraan i. Tema Pekerjaan j. Tema Rekreasi k. Tema Air, Udara, Dan Api l. Tema Negara m. Tema Alat Komunikasi n. Tema Gejala Alam o. Tema Tata Surya p. Tema Kehidupan Kota, Desa, Pesisir, Dan Pegunungan

Menurut Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik. Jakarta: Kencana. Moeslichatoen.2004. metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Rineka Cipta. Pendahuluan Perencanaan pembelajaran pada program PAUD merupakan langkah awal yang sangat penting untuk memberikan arah yang tepat dalam pelaksanaan proses pembelajaran, selain itu rencana pembelajaran disusun untuk memberikan panduan dalam menyiapkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak.

Dengan kata lain penyusunan rencana pembelajaran harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Rencana pembelajaran yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak tidak atau kurang memberi manfaat bagi pengembangan kemampuan anak, untuk itu disini kami akan membahas Komponen-komponen dalam rencana pembelajaran yang meliputi tujuan yang ingin dicapai, konsep yang ingin dibangun, metode, sarana, dan rencana waktu pelaksanaan merupakan acuan bagi pendidik dalam menjalankan kegiatan pembelajaran yang sistematis.

Pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus di kuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang di miliki oleh anak. Adapun proses pembelajaran terdiri atas beberapa hal diantaranya:

  1. Merancang suasana pembelajaran
  2. a) Ruangan dan halaman di atur guna menumbuhkan atau membangkitkan minat bereksplorasi anak dengan cara meletakkan media pembelajaran secara menarik. Pengaturan ruangan dan halaman dapat disesuaikan dengan tema mingguan
  3. b) Metode pembelajaran yang dipilih hendaknya merangsang anak untuk bereksplorasi (penjajakan), menemukan, dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya
  4. Menjalankan atau melaksanakan pembelajaran
  5. a) Proses pembelajaran tidak perlu diatur dalam tata urutan yang ketat. Anak hendaknya di beri kesempatan untuk memilih acara kegiatan pembelajarannya
  6. b) Dalam melaksanakan kegiatan pembelajarannya, sebaiknya di mulai dengan kegiatan yang dapat merangasang minat anak
  7. c) Kegiatan yang dijalankan anak dalam satu hari hendaknya bervariasai anatara kegiatan yang bersifat ramai dan kegiatan yang melatih konsentrasi anak
  8. Pengaturan Pengaturan proses pembelajaran lebih lanjut di atur dalam pedoman pengelolaan proses pembelajaran.

Tujuan dan fungsi program pembelajaran Menurut catron dan allen (1999:23) tujuan program pembelajaran adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi interaktif. Menurut pendapat lain Tujuan program pembelajaran adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembanganan sikap pengetahuan, ketrampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan pada tahapan berikutnya.

Adapun fungsi program pembelajaran diantaranya:

ØUntuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya ØMengenalkan anak dengan dunia sekitar ØMengembangkan sosialisasi anak ØMengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak ØMemberikan kesempatan kepada anak untuk menikmatia masa bermainnya.

Prinsip-Prinsip Pembelajaran PAUD Berikut ini prinsip-prinsip pengembangan rencana pembelajaran yang harus dipahami oleh tenaga pendidik PAUD :

  1. Sesuai Dengan Tahap Perkembangan Anak Rencana pembelajaran disusun untuk memberikan panduan dalam menyiapkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak. Dengan kata lain penyusunan rencana pembelajaran harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Rencana pembelajaran yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak tidak atau kurang memberi manfaat bagi pengembangan kemampuan anak. Sebagai contoh untuk kelompok anak usia 2 tahun yang sudah dapat berjalan dengan lancar, rencana pembelajaran yang berisi latihan berdiri tentunya tidak menantang anak untuk berkembang lebih lanjut. Sebaliknya untuk kelompok anak tersebut yang belum mengenal warna, kegiatan untuk membuat pola warna tidak akan dapat dicapai anak. Mengetahui tahap perkembangan kelompok usia anak dapat merujuk pada Standar Perkembangan.
  2. Memenuhi Kebutuhan Belajar Anak Selain memperhatikan tahap perkembangan anak, rencana pembelajaran juga harus dapat memenuhi kebutuhan belajar anak secara individu karena setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Meskipun pada umumnya anak pada kelompok usia tertentu ada dalam tahap perkembangan yang sama, tetapi pada kenyataannya setiap anak memiliki kekhasan masing- masing. Oleh karena itu dalam menyusun rencana pembelajaran perlu juga memperhatikan kekhasan anak secara individu. Memahami kekhasan dan kebutuhan pembelajaran masing-masing anak dapat dilakukan melalui Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) di saat anak baru masuk program, atau dengan cara mengamati saat anak main. DDTK adalah sekelompok instrumen yang digunakan untuk mendeteksi tahap perkembangan anak. Apabila perencanaan pembelajaran disusun setelah dilakukan penilaian, maka hasil penilaian perkembangan anak dapat dijadikan dasar untuk membuat perencanaan pembelajaran berikutnya.
  3. Menyeluruh (meliputi semua aspek perkembangan) Rencana pembelajaran yang disusun harus mencakup semua aspek perkembangan anak yang meliputi: moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, dan kemandirian, bahasa, kognitif,

fisik/motorik dan seni sebagai satu kesatuan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Pada pendidikan anak usia dini pengembangan setiap aspek perkembangan disampaikan dalam kegiatan pembelajaran yang terpadu dengan menggunakan tema. Contoh: dengan tema pembelajaran ”Aku”, aspek yang dikembangkan mencakup moral dan nilai-nilai agama (mengenal aku sebagai ciptaan Tuhan), bahasa (menambah kosa kata tentang aku, menceritakan keluargaku, dll), kognitif (menghitung jumlah anggota tubuh), sosial emosional (mengenal kesukaan dan ketidaksukaanku), dan seterusnya.

Operasional

  1. Tujuan Jelas dan dapat diukur: Perencanaan yang dibuat harus berisi tujuan yang jelas dan ingin dicapai dalam pembelajaran. Seperti yang dipaparkan di depan, tujuan yang ingin dicapai mencakup pengembangan semua kemampuan anak. Penetapan indikator yang ingin dicapai dalam rencana pembelajaran harus bertahap dan berkelanjutan, dimulai dari indikator paling sederhana, konkrit ke yang lebih rumit. Jumlah indikator yang ditetapkan dalam tujuan pun harus dibatasi sesuai dengan kemampuan. Tujuan yang dituangkan dalam rencana pembelajaran pun harus dapat terukur, konkrit, dan dapat diamati.
  2. Dapat Dilaksanakan: Perencanaan disusun sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran, karena itu penyusunan rencana pembelajaran harus dipastikan dapat diterapkan dalam pembelajaran yang menyenangkan bagi anak. Agar perencanaan dapat laksanakan maka harus memperhatikan sumber daya yang ada (SDM, sarana dan prasarana, lingkungan/muatan lokal), serta sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
  3. Mengoptimalkan Potensi Lingkungan Salah satu tujuan PAUD adalah mengembangkan kemampuan anak dalam mengenal lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain anak diharapkan peka terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Anak dapat melihat lingkungan sebagai pusat sumber belajar, sebagai potensi yang harus dioptimalkan dan sebagai wahana yang harus dijaga kelestariannya. Karena itu pengembangan rencana belajar untuk PAUD harus berakar pada lingkungan yang ada di sekitar anak.

Lingkungan yang dimaksud disini meliputi, lingkungan fisik yakni orang-orang yang ada di sekitar anak (guru, pengelola, orang tua, masyarakat), benda-benda, tumbuhan, binatang, dan bangunan sekitarnya, cuaca, alam sekitar. Selain lingkungan fisk juga perlu memperhatikan lingkungan non fisik, yakni adat, budaya, nilai-nilai keagamaan, seni, bahasa, dan lainnya. Lingkungan fisik maupun non fisik tersebut diatas menjadi sumber belajar yang tidak ada habisnya untuk diolah menjadi bagian dari perencanaan pembelajaran bagi anak usia dini.

Contoh: Tema : Tempat Beribadah, Sub tema : Masjid Kegiatan yang akan dilaksanakan:

  • Mendiskusikan perilaku yang diharapkan selama ada di masjid, kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan di masjid.
  • Mengajak anak langsung mengunjungi masjid untuk mengamati seluruh bagian bangunan masjid.
  • Memberi kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan pengalamannya tentang masjid kedalam kegiatan-kegiatan seperti: melukis, menggambar, menyusun balok, bermain pasir, membentuk dengan playdough, menggunting, menyusun puzle, dll. Mengoptimalkan potensi lingkungan juga dapat diartikan dengan memanfaatkan semua benda dan alat yang ada di lingkungan sebagai APE yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru bersama anak sebagai salah satu alternatif mengatasi kekurangan atau keterbatasan APE yang dimiliki.

Metode Pembelajaran pada PAUD 1. Metode Pembelajaran Bermain a. Rasional metode pembelajaran melalui bermain Kegiatan bermain juga dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran. Kegiatan bermain adalah yang yang paling disukai oleh anak-anak. Ketika bermain anak-anak merasa gembira, tidak ada beban apa pun dalam pikiran. Suasana hati senantiasa ceria. Dalam keceriaan inilah, guru bisa dengan mudah menyelipkan ajaran-ajarannya.

Ahli psikologi dan pendidikan berpendapat bahwa bermain merupakan pekerjaan anak- anak dan cermin pertumbuhan anak. Melalui bermain, seluruh potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak dapat dikembangkan. Ada sebelas pengaruh bermain bagi perkembangan anak, yaitu: 1) Perkembangan fisik; 2) Dorongan berkomunikasi; 3) Penyaluran bagi energi emosional yang terpendam; 4) Penyaluran bagi keinginan dan kebutuhan; 5) Sumber belajar; 6) Rangsangan bagi kreativitas; 7) Perkembangan wawasan diri; 8) Belajar bermasyarakat; 9) Standar moral; 10) Belajar bermain sesuai dengan peran jenis kelamin; dan 11) Perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan.

Format pembelajaran melalui bermain Metode pembelajaran melalui bermain terdiri dari tiga langkah utama, yaitu:

(1) Tahap Prabermain Tahap prabermain terdiri dari dua macam kegiatan persiapan, yaitu kegiatan penyiapan siswa dalam melaksanakan kegiatan bermain dan kegiatan penyiapan bahan dan peralatan.

(2) Tahap Bermain Terdiri dari rangkaian kegiatan berikut: (a) Semua anak menuju tempat yang sudah disediakan untuk bermain; (b) Dengan bimbingan guru, peserta permainan mulai melakukan tugasnya masing-masing; (c) Setelah kegiatan selesai, setiap anak menata kembali bahan dan peralatan bermainnya; (d)Anak-anak mencuci tangan.

(3) Tahap Penutup (a) Menarik perhatian anak tentang aspek-aspek penting dalam membangun sesuatu; (b) Menghubungkan pengalaman anak dalam bermain yang baru saja dilakukan dengan pengalaman lain; (c) Menunjukkan aspek-aspek penting dalam bekerja secara kelompok; (d)Menekankan pentingnya kerja sama. 2. Metode Pembelajaran Melalui bercerita a. Rasional metode pembelajaran melalui bercerita Metode bercerita merupakan salah satu metode yang banyak dipergunakan di PAUD. Metode tersebut dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak PAUD dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus menarik dan mengundang perhatian anak serta tidak lepas dari tujuan pembelajaran bagi anak PAUD. Penggunaan metode bercerita haruslah memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Isi cerita harus terikat dengan dunia kehidupan anak TK. 2) Kegiatan bercerita diusahakan dapat memberikan perrasaan gembira, lucu, dan mengasyikkan sesuai dengan dunia kehidupan anak yang penuh sukacita. 3) Kegiatan bercerita harus diiusahakan menjadi pengalaman bagi anak TK yang bersifat unik dan menarik.

Manfaat yang dapat diambil dari kegiatan bercerita atau mendongeng adalah: 1) Mengembangkan imajinasi anak; 2) Menambah pengalaman; 3) Melatih daya konsentrasi; 4) Menambah perbendaharaan kata; 5) Menciptakan suasana yang akrab; 6) Melatih daya tangkap; 7) Mengembangkan perasaan sosial; 8) Mengembangkan emosi anak; 9) Berlatih mendengarkan; 10) Mengenal nilai-nilai yang positif dan negatif; 11) Menambah pengetahuan. b. Format pembelajaran melalui bercerita Metode pembelajaran melalui bercerita terdiri dari lima langkah, antara lain yaitu: 1) Menentukan tujuan dan tema cerita 2) Menentukan bentuk bercerita yang dipilih 3) Menentukan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita 4) Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan bercerita, yang terdiri dari: a) menyampaikan tujuan dan tema cerita; b) mengatur tempat duduk; c) melaksanakan kegiatan pembukaan; d) mengembangkan cerita; e) menetapkan teknik bertutur; f) mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan cerita. 5) Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita. 3. Metode Pembelajaran Melalui bernyanyi

Rasional metode pembelajaran melalui bernyanyi menyatakan bahwa bernyanyi memiliki banyak manfaat untuk praktik pendidikan anak dan perkembangan pribadinya secara luas karena: 1) bernyanyi bersifat menyenangkan; 2) bernyanyi dapat dipakai untuk mengatasi kecemasan; 3) bernyanyi merupakan media untuk mengekspresikan perasaan; 4) bernyanyi dapat membangun rasa percaya diri anak; 5) bernyanyi dapat membantu daya ingat anak; 6) bernyanyi dapat mengembangkan rasa humor; dan 7) bernyanyi dapat membantu pengembangan keterampilan berfikir dan kemampuan motorik anak; serta dapat meningkatkan keeratan dalam sebuah kelompok. Kegiatan bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh anak-anak. Hampir setiap anak menikmati lagu-lagu atau nyanyian yang didengarkan, lebih-lebih jika nyanyian tersebut dibawakan oleh anak-anak seusianya dan diikuti dengan gerakan-gerakan yang sederhana. Melalui nyanyian atau lagu, banyak hal yang dapat kita pesankan kepada anak-anak, terutama pesan-pesan moral dan nilai-nilai agama.

  1. Sintaks pembelajaran melalui bernyanyi Metode pembelajaran melalui bernyanyi terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: 1) Tahap perrencanaan, (penetapan tujuan pembelajaran, penetapan materi pembelajaran, menetapkan metode dan teknik pembelajaran, dan menetapkan evaluasi pembelajaran) 2) Tahap pelaksanaan, yang terdiri dari: al: guru memperkenalkan lagu mbahan: anak diajak mendramatisikan lagu. 3) Tahap penilaian dilakukan dengan memakai pedoman observasi untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang telah dicapai oleh anak. 4. Metode Pembelajaran Terpadu a. Rasional metode pembelajaran terpadu Pembelajaran terpadu, pembelajaran yang mengintegrasikan ke dalam semua bidang kurikulum atau bidang-bidang pengembangan, berbagai kemampuan yang dimiliki oleh anak dapat berkembang secara optimal. b. Manfaat metode pembelajaran terpadu Ada beberapa manfaat dari metode pembelajaran terpadu, yaitu meningkatkan perkembangan konsep anak, memungkinkan anak untuk mengeksplorasikan pengetahuan,

Membantu guru dan praktisi lainnya untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya, dapat dilaksanakan pada jenjang yang berbeda. Sintak pembelaajaran terpadu Prosedur pelaksanaan pembelajaran terpadu terdiri dari langkah-langkah berikut: 1. Memilih tema, 2. Penjabaran tema, 3. Perencanaan, 4. Pelaksanaan, 5. Penilaian 5. Metode Pembelajaran Karya Wisata a. Rasionalisasi metode pembelajaran karya wisata Karya wisata merupakan salah satu metode pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengamati, memperoleh informasi, dan mengkaji dunia secara langsung, seperti binatang, tanaman, dan benda-benda lain yang ada di sekitar anak. b. Format metode pembelajaran karya wisata Secara umum, rancangan kegiatan yang dapat disiapkan oleh pamong PAUS adalah:

1) Menentukan sasaran dan lokasi, 2) Melakukan observasi lokasi dan hubungan dengan pengelola lokasi, 3) Merumuskan program kegiatan, 4) Membentuk panitia pelaksana (bila perlu), 5) Mmenyiapkan bahan dan alat serta perlengkapan yang deperlukan, 6) Merumuskan tata tertib kegiatan, 7) Meminta izin dan partisipasi orang tua 6. Metode Pembelajaran Demonstrasi a. Rasionalisasi metode pembelajaran demonstrasi Metode ini menekan pada cara-cara mengerjakan sesuatu dengan penjelasan, petunjuk, dan peragaan secara langsung. Melalui metode ini, diharapkan anak-anak dapat mengenal langkah- langkah pelaksanaan dalam melakukan suatu kegiatan, yang pada gilirannnya anak-anak diharapkan dapat meniru dan melakukan apa yang didemonstrasikan oleh pamong. b. Format metode pembelajaran demonstrasi Secara umum, rancangan yang dapat dibuat meliputi: 1) Menetapkan tujuan dan tema kegiatan, 2) Menentukan bentuk demonstrasi yang dipilih, 3) Menyiapkan alat dan bahan, 4) Menetapkan langkah-langkah kegiatan, Menetapkan penilaian kegiatan.

  1. Metode Pembelajaran Bercakap-cakap (Berdialog) Kegiatan bercakap-cakap atau berdialog dapat diartikan saling mengomunikasikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara verbal untuk mewujudkan bahasa reseptif yang meliputi kemampuan mendengarkan dan memahami pembicaraan orang lain dan bahasa ekspresif yang meliputi kemampuan menyatakan pendapat, gagasan, dan kebutuhan kepada orang lain. Seorang pamong PAUD hendaknya berupaya untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam berdialog. Upayakan menggunakan kata-kata yang positif, penuh dengan penghargaan dan pujian, serta kata-kata yang santun dan lembut, misalnya kata trima kasih, pintar, alhamdulillah, luar biasa, permisi, subhanallah dan lain-lain.
  2. Metode Pembelajaran Pemberian Tugas Metode pemberian tugas ini diberikan kepada anak semata-mata hanya untuk melatih persepsi pendengaran, meningkatkan kemampuan bahasa reseptif anak, memusatkan perhatian, dan membangun motivasi anak bukan untuk melihat hasilnya. Oleh karena itu, sebaiknya dihindari pemberian tugas yang bersifat memaksa, mendikte, membatasi kreativitas anak, terus-menerus, dalam bentuk pekerjaan rumah, atau tugas-tugas lain yang membuat anak justru merasa terpaksa, tertekan, membuat anak bosan, bahkan mungkin sampai pada tingkat frustasi.
  3. Metode Pembelajaran Sentra dan Lingkaran (Seling) Metode ini menekan pada pembelajaran sistem sentra, sementara intervensi pamong dalam pembelajaran lebih diminimalisasi. Pembelajaran dengan metode ini mengacu pada empat pijakan yang ada, yaitu sebagai berikut: a. Pijakan lingkaran main b. Pijakan pengalaman sebelum bermain c. Pijakan pengalaman main setiap anak d. Pijakan pengalaman setelah main Empat pijakan tersebut merupakan pijakan yang bersifat umum yang harus dilakukan oleh pamong PAUD dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode sentra.
  4. Metode Pembelajaran Quantum Teaching Metode ini tergolong relatif baru dalam PAUD karena pada umumnya metode ini digunakan untuk pendidikan formal. Metode Quantum Teaching , peran otak kanan dan kiri dapat dioptimalkan. Metode ini juga mampu mengakomodasi modalitas belajar anak (visual, auditorial, kinestetik). Selain itu, metode ini juga mengoptimalkan potensi kecerdasan majemuk yang dimiliki anak sehingga dengan menggunakan metode ini suasana belajar akan lebih bergairah, hidup, menyenangkan, tidak membosankan, dinamis, dan nyaman sehingga anak-anak lebih betah selama belajar.

Rencana  pembelaharan PAUD operasional yang  dijadikan acuan bagi guru untuk mengelola kegiatan bermain untuk mendukung anak dalam proses belajar. Rencana pelaksanaan pembelajaran dibuat sebelum pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran harus mengacu kepada karakteristik (usia, sosial budaya dan kebutuhan  individual) anak yang terlibat dalam pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk:

  1. mendukung keberhasilan pelaksanaan pembelajaran
  2. mengarahkan guru untuk menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan,
  3. mengarahkan guru untuk membangun sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan dimiliki anak

Mendukung keberhasilan pelaksanaan pembelajaran Menyusun Alur Perencanaan Pembelajaran PAUD Dalam meyusun alur perencanaan pembelajaran PAUD perlu mengetahui beberapa hal berikut ini :

  1. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan (STPP) Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi perkembangan anak yang mencakup aspek nilai agama dan moral,fisik motorik,kognitif,bahasa,sosial- emosional,dan seni. Lebih lanjut tentang STPP.
  2. Kompentensi Inti (KI) Kompetensi Inti (KI) pada Kurikulum2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan tingkat kemampuan untukmencapai STPP yang harus dimiliki peserta didik PAUD pada usia 6 tahun. Jadi Kompetensi Inti merupakan operasionalisasi dari STPP dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki anak dengan berbagai kegiatan pembelajaran melalui bermain yang dilakukan di satuan PAUD. Kualitas tersebut berisi gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pembelajaran untuk suatu tema pembelajaran pada PAUD yang mengacu pada Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar dikembangkan berdasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar program pengembangan. Dalam merumuskan Kompetensi Dasar juga memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal,serta ciri dari suatu program . Kompetensi Dasar(KD) PAUD dibahas lengkap Disini
  3. Menurunkan KD menjadi Materi/Muatan Ajar Pada pembelajaran PAUD hal yang terpenting adalah proses belajar yang menumbuhkan anak senang belajar, senang melakukan proses saintis, BUKAN menekankan pada penguasaan materi karena penilaian atau assessmen pada program merujuk pada tahap perkembangan. Contoh menurunkan KD menjadi Muatan Ajar PAUD Namun demikian  proses pembelajaran pada anak usia dini yang dilakukan melalui kegiatan bermain juga memberikan penambahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan anak yang sesuai dengan Kompetensi Dasar dengan memperhatikan kemampuan yang sesuai tahap perkembangan anak pada usia tertentu pada umumnya

Oleh karena itu pendidik juga harus mampu menurunkan materi yang sesuai dengan Kompetensi Dasar. Dampak Sosial dan Dampak Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Pendidikan yang bermutu mampu memberi kontribusi untuk anak-anak berkebutuhan khusus dalam mendapatkan layanan pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya. pendidikan baik dampak negatif maupun positif. DAMPAKSOSIAL v Dampak negatif Kelemahan pada faktor psikologis, beberapa orang tua dari anak berkebutuhan khusus mengalami ketidaknyamanan secara sosial baik di lingkup keluarga besar maupun dalam masyarakat, antara lain :

  1. Ada rasa malu atau tidak percaya diri membawa anak mereka ke lingkungan keluarga besar atau masyarakat
  2. Merasa anak berkebutuhan khusus memiliki kekurangan
  3. Orang tua merasa enggan memasukkan ke sekolah karena malu, minimnya biaya untuk sekolah, minimnya pengetahuan dan pengalaman orang tua, dan kendala operasional sekolah reguler.
  4. Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari
  5. Sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar
  6. Kesulitan dalam penyaluran tenaga kerja
  7. Masalah gangguan kepribadian dan emosi Dampak positif Anak berkebutuhan khusus sama dengan anak pada umumnya, mereka mendapatkan hak yang sama dalam layanan pendidikan.

Berikut dampak positif adanya anak berkebutuhan khusus, antara lain :

  1. Membelajarkan manusia normal untuk hidup berdampingan dengan anak berkebutuhan khusus.
  2. Membelajarkan masyarakat bagaimana memperlakukan anak berkebutuhan khusus
  3. Berinteraksi sosial dan mererima anak berkebutuhan khusus dengan baik
  4. Menimbulkan kasih sayang, menghargai, menolong, empati, dan berbagi sehingga lingkungan kondusif dan membantu perkembangan anak berkebutuhan khusus

Dampak negatif Anak berkebutuhan khusus memiliki hak memperoleh pendidikan seperti anak pada umumnya, hanya saja hingga saat ini masih terdapat kendala, antara lain :

  1. Operasional pendidikan anak berkebutuhan khusus dengan biaya tinggi
  2. Kurangnya sosialisasi tentang layanan pendidikan inklusi pada masyarakat
  3. Sulit memanfaatkan waktu luang

mengembangkan SELURUH POTENSI PERKEMBANGAN yang dimiliki oleh setiap anak pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini seharusnya sarat dgn aktivitas bermain yg mengutamakan adanya KEBEBASAN

Bagi anak untuk BEREKSPLORASI DAN BERKREATIVITAS,

Sedangkan orang dewasa seharusnya lebih berperan sebagai FASILITATOR

Pada saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi

(Albrecht n Miller,2000: 216-218)

 

KURIKULUM ADALAH SEPERANGKAT RENCANA DAN PENGATURAN

MENGENAI TUJUAN, ISI DAN BAHAN PELAJARAN SERTA CARA YANG

DIGUNAKAN SEBAGAI PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN

PEMBELAJARAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN TERTENTU

(UU SISDIKNAS NO 20 THN 2003, BAB I, PSL 1 AYAT 19)

 

KARAKTERISTIK ANAK USIA DINI YAITU:

  • Anak adalah pembelajar yang aktif
  • Anak belajar melalui sensori dan panca indera
  • Anak membangun pengetahuan sendiri
  • Anak berpikir melalui benda konkret
  • Anak belajar dari lingkungannya

 

PENGERTIAN PERENCANAAN

  • Menggambarkan aktivitas secara keseluruhan sebelum kegiatan yang sesungguhnya

dilaksanakan

  • Gambaran kegiatan yang akan dilakukan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran di lembaga PAUD
  • Perencanaan yang baik = 50% keberhasilan
  • Gagal merencanakan = merencanaka kegagalan
  • Sebagai acuan bagi pendidik/kader/orangtua dalam mengelola pembelajaran/aktivitas bermain

 

Dua aktifitas utama dalam merenanakan

  • Berpikir keras
  • menuliskan Secara Tepat
  • Menggambarkan aktivitas secara keseluruhan sebelum kegiatan yang sesungguhnya dilaksanakan

 

Gambaran kegiatan yang akan dilakukan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran di

lembaga PAUD

 

YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PENYUSUNAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

— Rencana pembelajaran harus sesuai dengan indikator perkembangan anak

— Rencana pembelajaran harus mengembangkan semua aspek perkembangan

— Rencana pembelajaran harus memuat rencana kegiatan yang membolehkan anak berekplorasi dan berkreasi sesuai dengan kebutuhan perkembangannya

— Rencana pembelajaran harus bersifat rasional, dapat dilaksanakan, dengan didukung oleh bahan dan alat yang dapat dimainkan anak

— Rencana pembelajaran dapat dibungkus oleh tema sebaga topik bahasan

— Kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk proyek yang dilaksanakan dalam sentra

 

1.Kalender Program Tahunan Sekolah

2.Tema yang dipilih

3.Pemilihan indikator u/ pembelajaran dengan memperhatikan: keterkaitan dengan tema, urutan dari yang mudah ke yg sulit, dr kongkret ke abstrak.

Program Tahunan TAHAP II

1.Indikator yg dipilih sesuai dengan kelompok usia

2.Tema terpilih

3.Kegiatan

– kegiatan yang terkait dengan tema.

  1. Wawasan pendidik ttg tema
  2. Alokasi waktu
  3. Lagu, sajak, cerita pendukung
  4. Bahan bacaan/narasumber
  5. Kosa kata yang ingin dikembangkan

 

Program Semester & Bulanan TAHAP III

1.Indikator yang dipilih berdasarkan minat  anak

  1. hasil evaluasi terhadap anak
  2. Ketersediaan bahan/alat/ media
  3. Tempat yang digunakan
  4. Kejadian-kejadian terkini/situasi-situasi khusus

 

Program mingguan tahap 1V

1.Keunikan anak secara Individual

2.Data pengamatan anak hari sebelumnya

3.Daftar pertanyaan terbuka

  1. Persiapan pengayaan konsep
  2. Pijakan atau dukungan spesifik untuk setiap anak
  3. Pencatatan hasil pengamatan terhadap setiap anak dan komentar

 

Program Harian Kemampuan dasar dalam menu generik/Standar

Tingkat Pencapaian Perkembangan

No

Aspek Perkembangan Kemampuan yang dikembangkan (menu generik)

Kemampuan yang dikembangkan ( standar PAUD)

1 Agama dan moral

  • Nilai dan adab kesopanan

2 Fisik

  • Kemampuan dalam mengkoordinasikan beberapa gerakan kasar

. Kemampuan mengontrol otot-otot kecil

. Koordinasi mata dan tangan

 

  • Motorik Kasar dan halus, kesehatan fisik.

3 Bahasa kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, menerima bahasa, mengungkapkan bahasa,  keaksaraan .